Artikel Permata

Artikel Permata

Artikel Permata

Kisah Valentine di Planet of Love | Permata (www.ruasbambunusa.com)
Tupon & Problem Tanah: Semua Bisa Kena!
Tupon & Problem Tanah: Semua Bisa Kena!
Tupon & Problem Tanah: Semua Bisa Kena!
Tupon & Problem Tanah: Semua Bisa Kena!

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Sore itu, Sabtu, 9 Mei 2026, kecemasan tersebut seolah hilang sementara. Ruangan pemutaran kembali hangat oleh kehadiran sekitar lima belas orang dengan latar belakang yang beragam—mulai dari mahasiswa seni, jurnalis, hingga aktivis komunitas. Kehadiran mereka menegaskan satu hal, di tengah gempuran zaman yang kian sinis, kebutuhan akan ruang komunal sebagai tempat bertukar pikiran dan menjaga kewarasan publik ternyata belum sepenuhnya mati. Justru di ruang-ruang kecil seperti inilah, daya solidaritas dan nalar kritis masyarakat sedang coba digugah agar tidak lebur oleh kepasrahan.

Sore itu, Sabtu, 9 Mei 2026, kecemasan tersebut seolah hilang sementara. Ruangan pemutaran kembali hangat oleh kehadiran sekitar lima belas orang dengan latar belakang yang beragam—mulai dari mahasiswa seni, jurnalis, hingga aktivis komunitas. Kehadiran mereka menegaskan satu hal, di tengah gempuran zaman yang kian sinis, kebutuhan akan ruang komunal sebagai tempat bertukar pikiran dan menjaga kewarasan publik ternyata belum sepenuhnya mati. Justru di ruang-ruang kecil seperti inilah, daya solidaritas dan nalar kritis masyarakat sedang coba digugah agar tidak lebur oleh kepasrahan.

Sore itu, Sabtu, 9 Mei 2026, kecemasan tersebut seolah hilang sementara. Ruangan pemutaran kembali hangat oleh kehadiran sekitar lima belas orang dengan latar belakang yang beragam—mulai dari mahasiswa seni, jurnalis, hingga aktivis komunitas. Kehadiran mereka menegaskan satu hal, di tengah gempuran zaman yang kian sinis, kebutuhan akan ruang komunal sebagai tempat bertukar pikiran dan menjaga kewarasan publik ternyata belum sepenuhnya mati. Justru di ruang-ruang kecil seperti inilah, daya solidaritas dan nalar kritis masyarakat sedang coba digugah agar tidak lebur oleh kepasrahan.

Sore itu, Sabtu, 9 Mei 2026, kecemasan tersebut seolah hilang sementara. Ruangan pemutaran kembali hangat oleh kehadiran sekitar lima belas orang dengan latar belakang yang beragam—mulai dari mahasiswa seni, jurnalis, hingga aktivis komunitas. Kehadiran mereka menegaskan satu hal, di tengah gempuran zaman yang kian sinis, kebutuhan akan ruang komunal sebagai tempat bertukar pikiran dan menjaga kewarasan publik ternyata belum sepenuhnya mati. Justru di ruang-ruang kecil seperti inilah, daya solidaritas dan nalar kritis masyarakat sedang coba digugah agar tidak lebur oleh kepasrahan.

Sore itu, Sabtu, 9 Mei 2026, kecemasan tersebut seolah hilang sementara. Ruangan pemutaran kembali hangat oleh kehadiran sekitar lima belas orang dengan latar belakang yang beragam—mulai dari mahasiswa seni, jurnalis, hingga aktivis komunitas. Kehadiran mereka menegaskan satu hal, di tengah gempuran zaman yang kian sinis, kebutuhan akan ruang komunal sebagai tempat bertukar pikiran dan menjaga kewarasan publik ternyata belum sepenuhnya mati. Justru di ruang-ruang kecil seperti inilah, daya solidaritas dan nalar kritis masyarakat sedang coba digugah agar tidak lebur oleh kepasrahan.

UPDATE TERBARU

UPDATE TERBARU

UPDATE TERBARU

UPDATE TERBARU

Baca artikel lainnya

Baca artikel lainnya

Baca artikel lainnya

Permata: Monisme (Film oleh Riar Rizaldi | www.ruasbambunusa.com)
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi
Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

Siapa yang berbicara atas nama gunung dan siapa yang mendengarkannya? Pertanyaan ini seolah muncul dari film Monisme pasca sesi pemutaran pada Sabtu, 17 Mei 2025 lalu, di Ruas Bambu Nusa. Ruang berbasis instalasi bambu yang dirancang sebagai ekosistem kreatif dan reflektif ini menjadi tempat dimana film ini menjalar dan menjadi lebih dari tontonan. Ia mengantarkan pada percakapan dalam sesi diskusi, memperpanjang pengalaman menonton menjadi laku perenungan bersama.

Siapa yang berbicara atas nama gunung dan siapa yang mendengarkannya? Pertanyaan ini seolah muncul dari film Monisme pasca sesi pemutaran pada Sabtu, 17 Mei 2025 lalu, di Ruas Bambu Nusa. Ruang berbasis instalasi bambu yang dirancang sebagai ekosistem kreatif dan reflektif ini menjadi tempat dimana film ini menjalar dan menjadi lebih dari tontonan. Ia mengantarkan pada percakapan dalam sesi diskusi, memperpanjang pengalaman menonton menjadi laku perenungan bersama.

Siapa yang berbicara atas nama gunung dan siapa yang mendengarkannya? Pertanyaan ini seolah muncul dari film Monisme pasca sesi pemutaran pada Sabtu, 17 Mei 2025 lalu, di Ruas Bambu Nusa. Ruang berbasis instalasi bambu yang dirancang sebagai ekosistem kreatif dan reflektif ini menjadi tempat dimana film ini menjalar dan menjadi lebih dari tontonan. Ia mengantarkan pada percakapan dalam sesi diskusi, memperpanjang pengalaman menonton menjadi laku perenungan bersama.

Siapa yang berbicara atas nama gunung dan siapa yang mendengarkannya? Pertanyaan ini seolah muncul dari film Monisme pasca sesi pemutaran pada Sabtu, 17 Mei 2025 lalu, di Ruas Bambu Nusa. Ruang berbasis instalasi bambu yang dirancang sebagai ekosistem kreatif dan reflektif ini menjadi tempat dimana film ini menjalar dan menjadi lebih dari tontonan. Ia mengantarkan pada percakapan dalam sesi diskusi, memperpanjang pengalaman menonton menjadi laku perenungan bersama.

You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama | Permata (www.ruasbambunusa.com)
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama
You & I: Merawat Memori, Merawat Sesama

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

Siapa yang akan merawat ingatan ketika yang menorehkannya sudah tak mampu lagi bercerita? Pertanyaan itu seolah menggantung di udara Ruas Bambu Nusa pada sore 22 Juni 2025, seusai film dokumenter You & I berdurasi 72 menit selesai diputar. Karya sutradara Fanny Chotimah ini tak sebatas menjadi tontonan, tetapi sebuah pengalaman yang mengajak penonton untuk menyelami lapisan ingatan, perawatan, dan ketabahan dari sosok sepasang sahabat.

Siapa yang akan merawat ingatan ketika yang menorehkannya sudah tak mampu lagi bercerita? Pertanyaan itu seolah menggantung di udara Ruas Bambu Nusa pada sore 22 Juni 2025, seusai film dokumenter You & I berdurasi 72 menit selesai diputar. Karya sutradara Fanny Chotimah ini tak sebatas menjadi tontonan, tetapi sebuah pengalaman yang mengajak penonton untuk menyelami lapisan ingatan, perawatan, dan ketabahan dari sosok sepasang sahabat.

Siapa yang akan merawat ingatan ketika yang menorehkannya sudah tak mampu lagi bercerita? Pertanyaan itu seolah menggantung di udara Ruas Bambu Nusa pada sore 22 Juni 2025, seusai film dokumenter You & I berdurasi 72 menit selesai diputar. Karya sutradara Fanny Chotimah ini tak sebatas menjadi tontonan, tetapi sebuah pengalaman yang mengajak penonton untuk menyelami lapisan ingatan, perawatan, dan ketabahan dari sosok sepasang sahabat.

Siapa yang akan merawat ingatan ketika yang menorehkannya sudah tak mampu lagi bercerita? Pertanyaan itu seolah menggantung di udara Ruas Bambu Nusa pada sore 22 Juni 2025, seusai film dokumenter You & I berdurasi 72 menit selesai diputar. Karya sutradara Fanny Chotimah ini tak sebatas menjadi tontonan, tetapi sebuah pengalaman yang mengajak penonton untuk menyelami lapisan ingatan, perawatan, dan ketabahan dari sosok sepasang sahabat.

Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi | Permata (www.ruasbambunusa.com)
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur: Ironi Gemah Ripah Loh Jinawi

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Erlangga Fauzan

Permata volume ke-4 ini terasa sangat istimewa dan spesial. Momen yang tepat untuk membicarakan isu tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pasalnya, film dokumenter karya sutradara Bani Nasution hadir dalam suasana khidmat di bulan kemerdekaan, Agustusan, menjadi pemicu untuk membicarakan lebih lanjut peran pemerintah dan negara dalam isu pengelolaan SDA.

Permata volume ke-4 ini terasa sangat istimewa dan spesial. Momen yang tepat untuk membicarakan isu tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pasalnya, film dokumenter karya sutradara Bani Nasution hadir dalam suasana khidmat di bulan kemerdekaan, Agustusan, menjadi pemicu untuk membicarakan lebih lanjut peran pemerintah dan negara dalam isu pengelolaan SDA.

Permata volume ke-4 ini terasa sangat istimewa dan spesial. Momen yang tepat untuk membicarakan isu tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pasalnya, film dokumenter karya sutradara Bani Nasution hadir dalam suasana khidmat di bulan kemerdekaan, Agustusan, menjadi pemicu untuk membicarakan lebih lanjut peran pemerintah dan negara dalam isu pengelolaan SDA.

Permata volume ke-4 ini terasa sangat istimewa dan spesial. Momen yang tepat untuk membicarakan isu tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pasalnya, film dokumenter karya sutradara Bani Nasution hadir dalam suasana khidmat di bulan kemerdekaan, Agustusan, menjadi pemicu untuk membicarakan lebih lanjut peran pemerintah dan negara dalam isu pengelolaan SDA.

Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian | Permata (www.ruasbambunusa.com)
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian
Kembalilah Dengan Tenang: Gema Pertanyaan atas Solidaritas, Lahan, dan Kematian

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

Di kota-kota yang kian padat, kematian bukan lagi hanya perkara duka, melainkan juga urusan ruang. Lahan makam yang semakin sempit membuat keluarga berduka harus berhadapan dengan konflik, biaya, dan aturan administratif. Pada titik ini, kematian tidak hanya menjadi akhir bagi yang pergi, tetapi juga ujian bagi yang hidup: apakah masih ada ruang untuk memulangkan mereka dengan layak, atau justru kepulangan itu kehilangan maknanya?

Di kota-kota yang kian padat, kematian bukan lagi hanya perkara duka, melainkan juga urusan ruang. Lahan makam yang semakin sempit membuat keluarga berduka harus berhadapan dengan konflik, biaya, dan aturan administratif. Pada titik ini, kematian tidak hanya menjadi akhir bagi yang pergi, tetapi juga ujian bagi yang hidup: apakah masih ada ruang untuk memulangkan mereka dengan layak, atau justru kepulangan itu kehilangan maknanya?

Di kota-kota yang kian padat, kematian bukan lagi hanya perkara duka, melainkan juga urusan ruang. Lahan makam yang semakin sempit membuat keluarga berduka harus berhadapan dengan konflik, biaya, dan aturan administratif. Pada titik ini, kematian tidak hanya menjadi akhir bagi yang pergi, tetapi juga ujian bagi yang hidup: apakah masih ada ruang untuk memulangkan mereka dengan layak, atau justru kepulangan itu kehilangan maknanya?

Di kota-kota yang kian padat, kematian bukan lagi hanya perkara duka, melainkan juga urusan ruang. Lahan makam yang semakin sempit membuat keluarga berduka harus berhadapan dengan konflik, biaya, dan aturan administratif. Pada titik ini, kematian tidak hanya menjadi akhir bagi yang pergi, tetapi juga ujian bagi yang hidup: apakah masih ada ruang untuk memulangkan mereka dengan layak, atau justru kepulangan itu kehilangan maknanya?