Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi

Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi

Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi

Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi

Monisme: Dialog tentang Dialog bersama Merapi

Ditulis oleh

Ditulis oleh

Ditulis oleh

Ditulis oleh

Ditulis oleh

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

M. Dzulqarnain

Rabu, 18 Juni 2025

Rabu, 18 Juni 2025

Rabu, 18 Juni 2025

Rabu, 18 Juni 2025

Rabu, 18 Juni 2025

Permata: Monisme (Directed by Riar Rizaldi | www.ruasbambunusa.com)
Permata: Monisme (Directed by Riar Rizaldi | www.ruasbambunusa.com)
Permata: Monisme (Directed by Riar Rizaldi | www.ruasbambunusa.com)

Siapa yang berbicara atas nama gunung dan siapa yang mendengarkannya? Pertanyaan ini seolah muncul dari film Monisme pasca sesi pemutaran pada Sabtu, 17 Mei 2025 lalu, di Ruas Bambu Nusa. Ruang berbasis instalasi bambu yang dirancang sebagai ekosistem kreatif dan reflektif ini menjadi tempat dimana film ini menjalar dan menjadi lebih dari tontonan. Ia mengantarkan pada percakapan dalam sesi diskusi, memperpanjang pengalaman menonton menjadi laku perenungan bersama.

Sebagaimana program Ruas Bambu Nusa dan Suara Dewandaru yang mengusung semangat belajar lintas disiplin, film Monisme tidak menyuguhkan narasi tunggal pada penontonnya. Melainkan mendorong kita untuk mencoba berbagai cara mengetahui, baik dari alam, institusi, hingga merasakan bagaimana pengetahuan bisa tumbuh dari pengalaman sehari-hari.

Monisme adalah film panjang pertama karya Riar Rizaldi tentang kehidupan Gunung Merapi di antara spiritualitas, sains, dan eksploitasi sumber daya lewat aneka pendekatan. Mulai dari mistikus, vulkanolog, penambang pasir, bahkan Merapi itu sendiri. Melaui perkawinan dokumenter dan fiksi, Monisme membawa kita ke semesta di mana gunung bukan sekadar latar atau objek alam, melainkan entitas yang menjadi pusat tarik-menarik kepentingan, kepercayaan, dan pertanyaan eksistensial.

Lahirnya Monisme

Perjalanan Monisme berangkat dari pengalaman personal Riar, sang sutradara, pada tahun 2013–2014. Ketertarikannya terhadap fiksi ilmiah serta kegemarannya menggali hubungan antara sains dan fenomena alam membawanya lebih dekat dengan Merapi. Kunjungan-kunjungannya ke kantor observasi di Babadan menjadi awal dari interaksi intensifnya dengan pegawai BMKG. Pertemuan tersebut, mulai membuatnya tertarik menggali relasi antara manusia dan Merapi—tidak hanya sebagai objek studi geologis, tetapi juga sebagai entitas hidup yang dekat dengan masyarakat yang memiliki hubungan khusus dengan Merapi. Baik yang bersinggungan dari segi ekonomi, sains, hingga spiritual—mulai dari para penambang pasir dan batu, hingga komunitas penghayat kepercayaan yang memaknai Merapi sebagai entitas yang dimuliakan.

Seiring berjalannya proses pra-produksi pada tahun 2015–2016, Monisme beranjak keluar dari pendekatan dokumenter observasional yang “menelanjangi” subjek. Secara bentuk dan gagasan kemudian bergerak ke arah pendekatan yang lebih imajinatif dengan mengeksplorasi elemen-elemen fiksi. Selain berfungsi sebagai perangkat ekspresi, elemen tersebut merupakan jembatan bahasa antara proyek produksi film dan masyarakat sekitar. Obrolan dengan para penambang soal film-film horor Indonesia era 80-an, misalnya, menjadi salah satu titik temu yang menarik. Bukan hanya karena untuk melancarkan komunikasi dengan mereka, tetapi ternyata obrolan tersebut menjadi inspirasi bagi bentuk sinema yang akan dikembangkan. Dari situlah muncul gagasan untuk membaurkan realitas dan fiksi, dokumenter dan imajinasi dalam satu narasi sinematik.

Perspektif pada Merapi

Monisme berangkat dari sebuah kerangka berpikir yang terbentuk dari tarik-ulur antara sistem pengetahuan rasional Barat dan narasi spiritual maupun mistis yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Sebagai individu yang tumbuh dalam dua kutub ekstrem tersebut, Riar merasa tertarik untuk mempertemukannya—atau bahkan menabrakkannya—melalui pendekatan artistik. Merapi menjadi titik temu dari berbagai cara pandang ini.

Ia melihat bagaimana para ilmuwan, khususnya vulkanolog, memaknai Merapi secara rasional dan saintifik; bagaimana para penambang pasir melihatnya dari kacamata pragmatis sebagai sumber penghidupan; dan bagaimana para penghayat kepercayaan lokal memaknainya secara spiritual, sebagai entitas yang mengatur siklus kehidupan yang harus diterima, bahkan saat terjadi letusan. Beragam pendekatan seperti ini kenyataannya tidak hanya eksklusif pada Merapi, ia ada dimana-mana di Indonesia. Bahkan di lembaga-lembaga ilmiah seperti BMKG, ada individu-individu yang tetap memegang kepercayaan pada hal-hal mistis, menciptakan relasi unik antara sains dan spiritualitas.

Dalam proses kreatifnya, Monisme tidak tergesa-gesa mengungkap realisme Merapi. Merapi tidak akan pernah bisa dipahami secara utuh. Merapi adalah misteri yang justru layak dihadirkan, bukan untuk dijelaskan secara tuntas. Monisme ingin menghadirkan pengalaman yang memungkinkan penonton merasakan keberadaan misteri itu, bukan menguasainya. Penonton tidak perlu serta-merta memahaminya dari perspektif yang sama. Begitu juga sebaliknya, pemahaman geofisika atas Merapi tidak digunakan oleh mereka yang hidup dalam narasi kosmologis Keraton maupun kepercayaan lokal. Pilihan naratif ini adalah keputusan artistik yang menempatkan penonton dalam lintasan perjalanan pengalaman, dari yang bisa dijelaskan menuju yang tidak bisa dijelaskan, dari pengetahuan menuju ketidaktahuan.

Pendekatan Organik

Selain secara gagasan dan artistik, terdapat pendekatan dalam keproduksian yang diterapkan. Naskah tidak disusun secara tertutup, melainkan terus-menerus diuji melalui diskusi dengan berbagai pihak yang terkait dengan Merapi. Tiap tanggapan mereka diolah kembali dan menjadi bagian dari Monisme itu sendiri. Gagasan kostum kambing, misalnya, lahir dari simbolisme mistika yang ditawarkan penghayat. Mereka memiliki pandangan kosmologi berbeda dari narasi-narasi resmi seperti milik Kraton. Simbol kambing di sini merujuk pada "wedus gembel"—istilah untuk menyebut awan panas erupsi Merapi.

Uji Hahan, salah satu aktor dalam film ini, di dalam sesi diskusi juga menyatakan bahwa ia merasakan dorongan untuk menggali sisi personalnya dalam membentuk karakter. Sang sutradara tidak datang dengan tuntutan mutlak seperti sutradara konvensional yang mengarahkan secara kaku, melainkan menciptakan ruang eksplorasi. Bagi Hahan, pengalaman ini membuka matanya terhadap kompleksitas kerja sinema dan menumbuhkan penghargaan baru terhadap seluruh proses pembuatan film.

Kidung Paramadita, aktor lainnya yang juga hadir di sesi diskusi, menggarisbawahi kedalaman filosofi dari judul Monisme—konsep yang dalam proses produksi kerap mengingatkannya pada keterbatasan pengetahuan manusia dan hadirnya ketidakpastian. Baginya, naskah film ini serupa karya ilmiah yang menghubungkan beragam pengetahuan dengan dimensi spiritual. Tokoh utama dalam film ini memang bukan manusia, melainkan Merapi itu sendiri— yang pun tidak pernah bisa sepenuhnya dipahami karena selalu berada dalam misteri, namun ia terus mengundang untuk didekati.

Monisme ditulis dalam naskah yang relatif singkat, hanya sekitar 40 halaman untuk film berdurasi dua jam. Jumlah tersebut menciptakan banyak ruang kosong dalam naskahnya untuk improvisasi di lapangan. Riar menjelaskan bahwa ia tidak mengikuti pola produksi film industrial, tetapi lebih tertarik pada proses yang organik. Inti dari pendekatannya adalah interaksi. Interaksi antara dirinya sebagai seniman dengan topik utama—dalam hal ini, Gunung Merapi—serta dengan tim produksi dan pihak-pihak lain yang terlibat. Ia melihat timnya sebagai bagian dari jaringan kreatif yang saling memberi kontribusi. Tugasnya sebagai sutradara adalah menjahit semua elemen tersebut menjadi satu kesatuan karya yang tetap sesuai dengan visi besarnya.

Metode seperti ini tidak lepas dari tantangan. Banyak hambatan muncul dari improvisasi yang tak terduga berikut dampaknya terhadap kapasitas keproduksian. Tetapi alih-alih menyembunyikannya, Riar justru ingin menampilkan kenyataan proses itu kepada penonton. Dalam Monisme, penonton bisa melihat clapper sebelum wawancara, suara boom mic yang bocor, hingga adegan-adegan di balik layar saat pertunjukan Jatilan. Ini semua menjadi bagian dari estetikanya: memotong ilusi sinematik dengan kenyataan produksi, agar penonton sadar bahwa mereka sedang menonton sebuah film, bukan kenyataan yang utuh.

Program Permata adalah inisiatif bulanan yang digagas oleh Ruas Bambu Nusa dan Suara Dewandaru sebagai ruang pengembangan kecerdasan majemuk melalui medium film dan gambar bergerak. Mengedepankan tiga pilar utama—eksebisi, eksplorasi, dan distribusi pengetahuan—Permata menyuguhkan pemutaran film dan membuka ruang yang mendorong apresiasi dan ekspresi lintas disiplin, dari bahasa hingga gerak tubuh.

Program Permata adalah inisiatif bulanan yang digagas oleh Ruas Bambu Nusa dan Suara Dewandaru sebagai ruang pengembangan kecerdasan majemuk melalui medium film dan gambar bergerak. Mengedepankan tiga pilar utama—eksebisi, eksplorasi, dan distribusi pengetahuan—Permata menyuguhkan pemutaran film dan membuka ruang yang mendorong apresiasi dan ekspresi lintas disiplin, dari bahasa hingga gerak tubuh.

Program Permata adalah inisiatif bulanan yang digagas oleh Ruas Bambu Nusa dan Suara Dewandaru sebagai ruang pengembangan kecerdasan majemuk melalui medium film dan gambar bergerak. Mengedepankan tiga pilar utama—eksebisi, eksplorasi, dan distribusi pengetahuan—Permata menyuguhkan pemutaran film dan membuka ruang yang mendorong apresiasi dan ekspresi lintas disiplin, dari bahasa hingga gerak tubuh.

Program Permata adalah inisiatif bulanan yang digagas oleh Ruas Bambu Nusa dan Suara Dewandaru sebagai ruang pengembangan kecerdasan majemuk melalui medium film dan gambar bergerak. Mengedepankan tiga pilar utama—eksebisi, eksplorasi, dan distribusi pengetahuan—Permata menyuguhkan pemutaran film dan membuka ruang yang mendorong apresiasi dan ekspresi lintas disiplin, dari bahasa hingga gerak tubuh.

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini

Bagikan artikel ini