Sabtu sore ini terasa spesial, acara bertepatan dengan sebuah hari yang oleh banyak anak muda dirayakan sebagai durasi untuk merayakan kasih sayang. Langit pun seolah memberikan restunya melalui cuaca mendung basah yang syahdu, menciptakan suasana hari yang begitu hangat untuk didekap. Kita perlu mengingat pula, di dalam kenyamanan ini, ada sebuah memori yang perlu kita semayami kembali dengan hati yang lapang. Pada tahun 2014 silam, tepat di hari Valentine juga, semesta memberikan kejutan berupa hujan abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud. Jika menengok kembali, momen itu sungguh membuat hati merana karena rencana-rencana manis seketika tertutup oleh pekatnya debu. Alam seolah punya caranya sendiri untuk bercerita, menyemburkan sesuatu yang abu-abu dan sama sekali tak pernah kita duga kehadirannya. Hujan abu di hari kasih sayang tersebut menjadi peringatan bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk cokelat atau bunga yang wangi.
Kini, kita duduk bersama untuk merayakan cinta yang jauh lebih tangguh dari sekadar romansa biasa. Sebuah perayaan tentang bertahan, tentang kepedulian, dan tentang bagaimana kasih sayang mampu menembus tebalnya debu prasangka. Momentum mengantarkan kita pada Planet of Love, film tentang perjuangan dan usaha merawat kasih sayang yang tiada henti, tentang anak-anak dengan HIV dan AIDS dan kisah bertahan hidup di dunia yang penuh stigma buruk tentang mereka.
Planet of Love hadir sebagai sebuah karya dokumenter berdurasi 100 menit yang lahir dari tangan dingin sutradara Ika Wulandari. Melalui arahannya, kita diajak bertamu ke sebuah panti khusus yang menjadi tempat bernaung bagi anak-anak tangguh yang hidup dengan HIV dan AIDS. Selama hampir dua jam, film ini mengajak kita menyelami keseharian mereka dan para pengasuh dengan tempo yang pelan dan terasa sangat intim. Suasana yang dibangun begitu hangat dan emosional, seolah-olah kita sedang duduk bersama mereka di ruang tamu yang penuh cerita. Di balik kelembutan itu, tersaji pula realitas kehidupan mereka yang keras dan penuh tantangan dalam menghadapi hari demi hari. Kita diajak menyaksikan bagaimana para pengasuh dengan sabar merawat anak-anak ini, menghadapi mereka dengan kasih sayang yang melampaui tugas medis semata. Ada getaran emosi yang tertangkap di setiap sudut panti, menyadarkan bahwa di tempat yang mungkin dianggap aib dan hina oleh masyarakat, justru tersimpan energi kehidupan yang luar biasa. Menonton film ini seperti sebuah perjalanan batin untuk memahami apa itu arti ketulusan dan rasa kemanusiaan.
Sore itu, ruang pemutaran diisi oleh kurang lebih 15 pasang mata. Suasana terasa begitu khidmat, di mana setiap penonton tampak terpaku dan memberikan fokus penuh sejak menit pertama hingga film selesai. Di sela-sela keheningan, sesekali terdengar isak kecil dan helaan napas panjang. Tak jarang, terlihat beberapa penonton yang menyeka tetesan air mata. Meski durasi film mencapai seratus menit, rasanya tak ada satu pun yang beranjak dari tempat duduknya. Waktu seakan berhenti berputar ketika kita semua larut dalam perjuangan sunyi anak-anak panti dan para pengasuhnya yang luar biasa.
Begitu kredit film berakhir, keheningan menyelimuti seluruh penjuru ruangan untuk beberapa saat. Tampaknya, para penonton masih membutuhkan waktu sejenak untuk mengolah seluruh luapan emosi dan rasa haru yang baru saja tercipta. Tak ada yang terburu-buru untuk bersuara. Setelah suasana perlahan mencair, acara pun berlanjut ke sesi bincang-bincang yang sudah dinanti-nantikan bersama sang sutradara, Ika Wulandari.
Acara ngobrol-ngobrol dimulai oleh mbak Ika yang menceritakan latar belakang pembuatan film ini. Ia menuturkan bahwa cerita ini sama dengan kisah pengalaman hidupnya, yang terkait dengan penolakan dari orang-orang tercinta. “Kita sama-sama tidak punya pengaman, sama ditinggalkan dari kasih sayang, anak-anak yang ditinggalkan.” Mbak Ika menambahkan bahwa film ini tidak ingin menampilkan rasa kasihan. Ia ingin menunjukkan kisah apa adanya dan manusiawi kehidupan mereka. Maka dari itu ia tak ingin wajah-wajah anak dan perilaku para subjek kisah dikenakan sensor. “Saya tidak punya keinginan film ini tampil di televisi. Kalau saya menyetujuinya, saya malah melecehkan martabat mereka. Dengan mengungkapkan secara apa adanya berarti saya menghormati keadaan dan kehadiran mereka di dunia.”
Mbak Ika juga menjelaskan alasan di balik pilihannya menggunakan metode observasional sebagai bahasa film ini. Bagi sang sutradara, pendekatan ini adalah cara yang paling tepat untuk mengajak penonton masuk secara perlahan, ikut merasakan setiap embusan napas dan detak kehidupan yang dialami oleh orang-orang di dalam panti. Ia pun mengakui dengan jujur bahwa pacing atau tempo film yang lambat mungkin menimbulkan rasa jenuh bagi sebagian orang di kursi penonton. Namun, kejenuhan itu bukanlah tanpa maksud; Mbak Ika berdalih bahwa memang seperti itulah irama kehidupan nyata yang harus dijalani anak-anak tersebut setiap harinya. Ia ingin menyampaikan kepada publik sebuah potret yang jujur tentang keseharian yang terisolasi namun terasa hangat, di mana waktu berjalan merayap di tengah perjuangan yang sunyi. Dengan mempertahankan irama tersebut, ia berharap penonton tidak hanya sekadar menonton, tetapi benar-benar "hadir" dan merasakan beban waktu yang sama dengan para penghuni panti.
Sesi bincang-bincang ini menjadi ruang terbuka bagi para penonton untuk saling membagikan pengalaman batin dan kesan mendalam yang mereka tangkap dari layar. Seorang perempuan bernama Er mengungkapkan bahwa film ini telah membuka cakrawala barunya tentang bagaimana kondisi nyata manusia yang hidup dengan HIV/AIDS. Baginya, Planet of Love berhasil menciptakan sebuah konektivitas emosional yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar informasi yang selama ini ia serap melalui berita-berita di media.
Sementara itu, Fai membagikan refleksinya dengan nada yang lebih getir saat menyoroti sebuah adegan yang memperlihatkan ketakutan masyarakat terhadap keberadaan Panti Lentera. Ia merasa momen tersebut menjadi potret yang sangat benderang bahwa tembok diskriminasi di tengah kita masih berdiri dengan begitu kokoh dan mengerikan.
Di sisi lain, Ade membawa perspektif yang cukup unik dengan menyoroti sisi dilematis saat para pengasuh panti terpaksa meminta anak-anak untuk merahasiakan asal-usul mereka. Menurutnya, instruksi untuk "berbohong" demi keamanan ini menyimpan potensi konflik moral yang cukup besar ketika anak-anak tersebut beranjak dewasa.
Menanggapi kegelisahan itu, Mbak Ika menjelaskan dengan tenang bahwa potret tersebut adalah realitas apa adanya yang memang terjadi di lapangan. Di dalam dunia yang masih pekat dengan stigma, pilihan para pengasuh tersebut menjadi sebuah sikap strategis sekaligus kompromis yang terasa sangat wajar untuk diambil. Pilihan pahit ini dilakukan demi melindungi anak-anak agar tidak terjerumus ke dalam situasi kehidupan yang jauh lebih tragis lagi. Mbak Ika juga mengingatkan bahwa mereka adalah penyandang disabilitas yang "tidak terlihat", yang setiap detiknya rentan terjatuh ke dalam diskriminasi jika identitas medisnya terungkap tanpa perlindungan yang tepat. Penjelasan ini seolah menegaskan kembali bahwa perjuangan merawat anak-anak tersebut memang seringkali harus menempuh jalan sepi yang penuh dengan kompromi untuk sebuah keselamatan.
Percakapan mengalir semakin dalam. Kali ini menyentuh aspek-aspek medis seputar HIV/AIDS yang selama ini sering kali diselimuti oleh mitos dan ketakutan yang tidak berdasar. Para peserta saling membagikan pengetahuan mereka untuk meluruskan pemahaman tentang cara penyebaran virus yang sering disalahartikan tersebut. Satu poin krusial yang ditegaskan kembali adalah bahwa HIV/AIDS sama sekali tidak menular melalui kontak sosial biasa, seperti berbagi alat makan atau melalui air liur. Saudara Ama dan Nabila menjelaskan bahwa penularan virus ini secara spesifik terjadi melalui cairan tubuh seperti air susu ibu, darah, air mani, cairan vagina dari orang yang telah terinfeksi. Penjelasan ini menjadi sangat penting untuk dipahami bersama agar tidak ada lagi jarak sosial yang tercipta hanya karena ketidaktahuan kita. Rasa takut yang berlebihan justru sering kali lebih berbahaya daripada virus itu sendiri. Pemahaman yang benar menjadi kunci utama untuk meruntuhkan tembok diskriminasi yang selama ini terjadi kepada para penderita HIV/AIDS.
Sesi bertukar cerita pun kembali bergulir, kali ini membawa suasana yang lebih dalam saat Mbak Gandes membagikan sebuah kisah tentang seorang temannya. Ia menceritakan betapa pedihnya perjalanan sang sahabat yang baru mengetahui status kesehatannya saat sudah memasuki tahap AIDS di usia dewasa. Ketika sahabatnya sudah tak lagi bernyawa, ia mengalami penolakan dari keluarganya sendiri yang enggan mengakui fakta penyebab kematiannya demi menjaga wajah di depan masyarakat. Dengan dalih menghindari aib, keluarga memilih untuk mengaburkan kebenaran dan menciptakan narasi lain agar tidak perlu menanggung malu. Sungguh ironis.
Pengalaman lain datang dari Mbak Ambar, di mana nada jengkel dan kemarahan terdengar jelas dalam setiap kata yang ia ucapkan. Ia mengenang kembali masa SMP-nya dulu, saat ia mengikuti seminar penanggulangan HIV/AIDS yang diselenggarakan oleh pemerintah. Meski puluhan tahun telah berlalu sejak momen itu, ia merasa upaya pencegahan dan pengelolaan virus ini di tanah air seolah berjalan stagnan atau tak ada perkembangan signifikan. Di matanya, gerak langkah otoritas dalam menangani isu ini terasa lambat sekali, seolah penyebaran virus dan diskriminasi yang mengikutinya bukanlah hal yang mendesak untuk diselesaikan. Ada kekecewaan mendalam yang ia suarakan mengenai ketiadaan program pencegahan yang dikerjakan secara serius dan menyeluruh. Bagi Mbak Ambar, absennya kepedulian yang mendalam dari pihak berwenang selama ini menjadi alasan utama munculnya segala macam stigma buruk yang dilekatkan pada penerima virus ini.
Perbincangan kembali menengok narasi di balik layar mengenai asal-usul anak-anak yang akhirnya berlabuh di panti tersebut. Mbak Ika menjelaskan bahwa sebagian besar dari mereka kini harus tumbuh tanpa orang tua, yang telah berpulang lebih dulu akibat infeksi virus yang sama. Secara medis, anak-anak ini umumnya terinfeksi melalui transmisi ibu ke anak, di mana sang ibu sebelumnya tertular dari sang suami melalui faktor risiko utama seperti hubungan seksual yang tidak aman atau penggunaan jarum suntik pada narkoba. Realitas yang lebih menyakitkan terungkap saat Mbak Ika memaparkan alasan mengapa pihak keluarga besar enggan merawat mereka dan memilih untuk menitipkannya ke panti. Banyak keluarga merasa tidak sanggup memberikan perawatan dan pengobatan khusus yang harus dilakukan secara disiplin sepanjang hidup anak tersebut. Selain kendala teknis, bayang-bayang stigma bahwa kehadiran anak-anak ini membawa aib bagi nama baik keluarga masih menjadi alasan yang dominan. Terlebih lagi, tekanan dari omongan tetangga yang penuh penghakiman sering kali menjadi beban mental yang tak sanggup dipikul oleh pihak keluarga. Melalui penjelasan Mbak Ika, kita disadarkan bahwa setiap anak di panti tersebut membawa luka berlapis, mulai dari kehilangan orang tua hingga penolakan sosial yang datang bertubi-tubi.
Saat hari mulai menuju Maghrib, panggung diskusi menjadi kian lengkap dengan kehadiran Mbak Putri selaku produser film yang turut bergabung untuk memperdalam percakapan. Pada kesempatan yang hangat itu, ia memaparkan konsep kampanye besar di balik layar yang mereka namakan Network of Love. Sebagaimana yang tertulis dalam leaflet acara, program distribusi dampak ini dirancang secara khusus untuk menyoroti kehidupan anak-anak penyintas HIV/AIDS (ADHIV). Tujuan utamanya sangat mulia, yakni berupaya mengubah stigma yang tajam menjadi sebuah pemahaman masyarakat yang lebih inklusif melalui empat pilar utama. Pilar-pilar tersebut terdiri dari School of Love yang bergerak di bidang pendidikan, Media of Love untuk penguatan komunikasi, Solidarity of Love sebagai bentuk dukungan sosial, serta Voices of Love yang berfokus pada ranah advokasi. Melalui program ini, Mbak Putri memiliki visi bahwa kisah di dalam film tidak boleh hanya berhenti di layar saja. Ia merancang agar energi dari film ini terus bertumbuh dan berkembang, masuk ke dalam ruang-ruang kelas hingga mampu menyentuh meja kebijakan publik. Dengan begitu, perjuangan anak-anak ADHIV akan terus bergema sebagai gerakan nyata yang membawa perubahan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Menjelang akhir sesi, Nabila, seorang penonton, mengungkapkan rasa ingin tahu sekaligus kekhawatirannya terhadap nasib panti. Rasa penasaran itu muncul setelah ia membaca informasi di kredit film yang menyebutkan bahwa lokasi panti di areal Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Jurug, Surakarta akan digusur untuk dijadikan lahan parkir. Menanggapi kegelisahan tersebut, Mbak Putri menjelaskan bahwa saat ini panti memang sudah berpindah tempat, meski kesepakatan permanen antara Pemkot Solo dan Panti Lentera belum sepenuhnya mencapai titik temu. Kini, kehidupan anak-anak tersebut terbagi di dua lokasi berbeda yang memiliki fungsinya masing-masing. Lokasi pertama menempati lahan sementara yang disediakan pemkot di bekas SD Belik, Purwodiningratan, yang dikhususkan bagi anak-anak usia dini hingga jenjang sekolah dasar. Sementara itu, lokasi kedua adalah Rumah Lentera, sebuah bangunan milik panti sendiri yang berhasil diwujudkan berkat donasi. Di Rumah Lentera inilah anak-anak yang telah beranjak dewasa—sebagian besar merupakan sosok yang tampil dalam film—menjalani keseharian mereka. Pemisahan ini dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan karena setiap kelompok umur memiliki kebutuhan yang berbeda, terutama bagi mereka yang sudah dewasa yang sangat memerlukan ruang privasi demi kelanjutan hidup dan kemandirian mereka di masa depan.
Sebagaimana hujan abu Kelud yang akhirnya mereda dan menyuburkan tanah, film ini diharapkan menggugah hati kita semua agar kepedulian dan rasa kasih sayang tumbuh dan merekah. Sore ini, Valentine dirayakan dengan komitmen bersama untuk merawat kemanusiaan di atas segala perbedaan. Melalui Planet of Love, kita diingatkan bahwa tugas terbesar manusia bukanlah untuk menghakimi, melainkan untuk terus mencintai di tengah badai ketidakadilan yang tak kunjung usai.
Perbincangan berakhir.
Tetapi daftar presensi hidup dan mati masih terus berjalan.




