Permata volume ke-4 ini terasa sangat istimewa dan spesial. Momen yang tepat untuk membicarakan isu tambang dan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Pasalnya, film dokumenter karya sutradara Bani Nasution hadir dalam suasana khidmat di bulan kemerdekaan, Agustusan, menjadi pemicu untuk membicarakan lebih lanjut peran pemerintah dan negara dalam isu pengelolaan SDA. Isu ini menjadi sangat krusial mengingat kekayaan alam Indonesia seharusnya dinikmati secara berkelanjutan, bukan dikorbankan demi kepentingan sesaat. Sangat relevan bahwa film ini diputar bertepatan dengan perayaan kemerdekaan, mengingatkan kita bahwa makna merdeka yang sesungguhnya juga mencakup kebebasan dari kerusakan lingkungan dan ketidakadilan.
Merdeka, merdeka, merdeka!
Panas Mandi Debu Hujan Mandi Lumpur menyoroti perkara pertambangan yang massif, dampaknya terhadap lingkungan, dan apa yang terjadi kepada kehidupan manusia di sana. Lokasi tambang terwakili oleh 3 titik di pulau berbeda, yaitu Sumatera (Alue Buloh, Nagan Raya, Aceh); Kalimantan (Sungai Payang, Kutai Kartanegara, Kaltim); dan Sulawesi (Lasolo Kepulauan, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara). Kisah ini mengikuti cerita warga di ketiga wilayah tersebut. Mereka sebagian besar adalah petani, nelayan, dan ibu rumah tangga yang berusaha keras bertahan dalam perubahan yang tidak mereka minta dan bayangkan. Tambang datang dengan janji-janji manis: tersedianya lapangan pekerjaan dan pembangunan fasilitas publik. Namun, fakta yang terjadi tidak demikian, yang tersisa justru lubang besar hasil penggalian, sumber air yang tercemar, kondisi kesehatan masyarakat buruk, dan tanah yang tidak lagi bisa ditanami.
Acara dimulai kurang lebih pukul 15.20 WIB dan dihadiri sekitar 15-an kawan-kawan berbagai lintas disiplin dan keilmuan. Seperti yang terkemuka di awal, rasa spesial ini didukung dengan cuaca terang berawan, terasa sinar matahari sore yang terasa hangat bercampur suhu dingin lereng Merapi. Pemutaran bergulir tidak terasa, kisah dokumenter berdurasi 23.29 menit ini pun usai. Setelah lampu ruangan menyala, raut-raut wajah sedih, kecewa dan marah terlihat jelas datang dari para hadirin. Nyata adanya, si karya telah menimbulkan dampak langsung yang kuat: munculnya berbagai tanggapan dan respon emosi, dan bahkan beberapa orang ingin misuh. Apakah yang seharusnya kita lakukan untuk mengubah keadaan yang rusak menjadi semula? Demi pikiran sehat dan asas kebermanfaatan, dan membuat konkret berbagai perasaan yang muncul menjadi pemikiran, acara berlanjut menuju sesi diskusi. Suasana ini menunjukkan betapa isu tambang bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah kemanusiaan yang mendalam.
Sesi obrolan diawali dengan membuka dan menerima tanggapan atas film dari kawan-kawan yang hadir. Pak Wihana memulai, ia pun merasa gusar terhadap kondisi alam yang rusak akibat pertambangan tetapi juga menginsyafi dirinya, “Lalu kita bisa apa?” Bahwa yang harus kita lakukan kedepan adalah mengubah mindset. Sebagai seorang pengajar dan profesor bidang lingkungan, ia mengatakan bahwa kegiatan pertambangan hari ini harus ada evaluasi besar-besaran, paradigma sustainable wajib menjadi kultur berusaha di negara ini sehingga sumber daya alam tetap ada dan tidak rusak demi masa depan Indonesia. Ia memberi apresiasi setinggi-tingginya untuk film ini karena telah menghadirkan contoh konkret keadaan dan dampak usaha pertambangan –yang ektraktif dan eksploitatif. Karya ini memiliki potensi untuk didistribusikan lebih lanjut kepada para anak muda, terutama pelajar. Sangat cocok ditonton untuk para future leader.
Respon kedua muncul dari seseorang yang bekerja di bidang tambang. Alangkah menyenangkannya sore itu bisa bertukar pikiran dengan perspektif orang yang bekerja di dalamnya. Mbak Mila mengungkapkan, ada rasa sedih dan getir pada dirinya saat ia menemui kenyataan bahwa pekerjaannya membuat dampak kerusakan hebat dan pada sisi lainnya ia tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya. Sungguh berterima kasih untuk film ini karena mendapatkan sumber lain atas isu tambang dan dampaknya. Lalu ia mengutip pernyataan Karlina Supelli dan melakukan otokritik, kurang lebih begini: usaha pertambangan kurang bisa membayangkan dampak, sehingga rasa welas asih tidak muncul. Pandangan ini menambah dimensi emosional yang sering kali luput dari perbincangan tentang industri tambang.
Lain halnya dengan Mas Dana –seorang yang bekerja di bidang social media strategist, ia menyoroti soal strategi perluasan wacana dan penggunaan media untuk menyebarkan pesan film. Baginya, meski film ini karya bagus tetapi jika menggunakan konsep dan medium seperti ini anak muda jaman sekarang akan bosan dan berpikir berulang kali untuk melihatnya. Ia meneruskan pernyataannya dengan melempar pertanyaan kepada sutradara tentang bagaimana konsep distribusi dan cara publikasi film ini. Sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Mas Dana, Pak Wikana menyoroti pentingnya konsep distribusi mengingat pentingnya pesan film, bagaimana caranya isu ini terus-menerus hidup, menjalar dan berkembang. Pertanyaan ini membuka diskusi penting tentang bagaimana seni dokumenter dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan relevan.
Suasana menghangat meski matahari tiada lagi tinggi.
Bani Nasution, sang sutradara, menceritakan latar belakang dan alasan penciptaan karyanya. Secara pragmatis ia menjawab alasan mengapa mengambil peran sutradara dalam film ini, “Yang pertama karena diajak oleh Mas Udin (Salahuddin Siregar) lalu saya pikir saya belum pernah ke sana, jadi saya berusaha menantang diri sendiri, bagaimana rasanya di sana.” Bani melanjutkan, proses produksi dilakukan dalam dua tahap sepanjang 2022: pertama ke Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Timur, lalu kembali ke Jogja dan kemudian lanjut ke Aceh. Ia berangkat bersama tim kecil yang terdiri dari Tommy Fahrizal (penata suara), dan Fandy Putra Mustofa (kamera) serta Arie Surastio (editor). Pengakuan ini menunjukkan bahwa pembuatan film dokumenter adalah sebuah perjalanan fisik dan mental yang tidak mudah.
Bani menjelaskan film ini diproduksi oleh Publish What You Pay Indonesia, sebuah koalisi masyarakat sipil yang mendorong perbaikan tata kelola sektor energi dan sumber daya alam (SDA) yang demokratis dan inklusif. Mereka punya misi memberdayakan masyarakat dalam perbaikan tata kelola sumber daya alam yang adil untuk semua dalam transisi energi, dalam batas-batas alam planet ini. Pengambilan gambar film dilakukan tahun 2022 lalu masuk meja editing setahun setelahnya, tahun 2023. Dan merilisnya pada tahun 2025.
Merespon pandangan dari Mas Dana, Bani berujar bahwa awal mulanya film ini tidak dibuat untuk publik dan terbatas. Tetapi berubah haluan saat hebohnya peristiwa tambang Raja Ampat di media sosial. Mereka merasa bahwa film ini memiliki tingkat urgensi yang sama, yaitu mendorong dan membuka mata publik kalau di banyak tempat lain, masyarakat juga menghadapi persoalan serupa. Posisi film ini untuk menyuarakan keluhan warga di sana yang suaranya nyaris tak terdengar. Maka saat itu pikiran tentang bagaimana distribusi dan cara publikasi film ini tidak dibicarakan lebih jauh. Selain di acara ini, film ini sudah diputar di tempat-tempat terdampak tambang, antara lain lokasi yang menjadi tempat pengambilan gambar.
Pembicaraan mendorong ke arah yang mendalam. Mas Damas –seorang game developer, merespon pendapat Mas Dana, ia sepakat dalam hal membuat rancangan publikasi dan membuat konten media yang relevan. Idenya, wacana film ini bisa diluaskan dengan membuat versi game-nya. Berbekal pengalaman di bidang game developing, ia mengatakan saat ini medium game menjadi sarana strategis untuk membuat kampanye publik karena sebagian besar anak muda bermain di sana. Nah, dengan begitu, sasaran segmen anak-anak muda dapat terengkuh optimal dan dengan mudah memahami berbagai topik “berat” terkait lingkungan hidup, terutama dampak pertambangan. Mas Damas pun juga meyakinkan forum bahwa tak perlu khawatir soal pendanaan. Apabila gaming membutuhkan dana yang sangat besar, tawaran solusi mendapatkan dana juga berlimpah, salah satunya adalah lewat crowdfunding.
Pendapat berbeda dilayangkan oleh Mas Zikri, sebagai lulusan kedokteran bidang kesehatan masyarakat, ia menganggap film ini adalah perluasan produk akademis yang enak dilihat. Memakai analogi metode riset, film ini memenuhi metode tersebut dan cara lain melihat “laporan hasil”. Ia menyebut karya ini sebagai diseminasi riset dan ketika melihat film ini ia menilai karya ini melengkapi perbendaharaan film-film sejenis di Indonesia.
Obrolan mengalir santai dan seru. Bani Nasution melanjutkan ceritanya tentang apa yang dialami selama shooting di wilayah itu. Yang pertama dan utama ia highlight adalah ia sempat mengalami stress setelah menjalani pengambilan gambar di lokasi Sultra. Ia nyaris gila. Sepulang dari sana dan tiba di Jogja ia memutuskan beristirahat beberapa hari sebelum berangkat ke Aceh. Di lokasi Sultra, tiba-tiba hidupnya berbanding terbalik. Tidak ada air bersih, mereka harus membelinya, dan “untungnya” anggaran produksi memadai untuk itu. Satu tangki 500 ribu. Fasilitas MCK pun sangat terbatas. Terkait hal barusan, Bani teringat sesuatu dan menceritakan hal yang sangat miris. Kondisi suku Bajo, yang sejatinya bertempat tinggal di lautan lepas, sekarang ini hidupnya “didaratkan” karena wilayah tinggalnya menjadi jalur hilir mudik kapal tongkang. Kondisi ini mengakibatkan perubahan drastis kultur hidup dan ekosistem. Termasuk kultur pengelolaan kebersihan dan kesehatan warga. Di lokasi ini rencana tim juga tidak berjalan mulus. Ada kejadian kebocoran informasi terkait kedatangan tim yang mengakibatkan operasi pertambangan tidak sesuai yang diharapkan (tidak mendukung elemen kreatif cerita). Ternyata pihak perusahaan mengetahui jadwal tim produksi dan saat itu fasilitas pabrik tidak ada yang on. Pihak tambang merasa proses pengambilan gambar adalah gangguan dan merusak citra. Pengalaman ini membuktikan betapa sulitnya merekam kebenaran di tengah berbagai rintangan di lapangan.
Cerita saat di Kaltim tidak kalah seru. Tim produksi harus kucing-kucingan dengan ormas saat menuju area shooting. Di sana area/wilayah pertambangan batu bara dan terdampak dijaga oleh banyak ormas. Tidak hanya satu ormas. Bayangkan jika kita harus “melewati” banyak ormas itu! Bukan saja uang yang lepas, bisa jadi nyawa. Meski tim didampingi oleh LSM setempat tetapi mereka tidak mau ambil keputusan gegabah. Untung saja ada seorang ibu, sekaligus ia menjadi subjek yang di-interview, baik hatinya dan juga pintar. Ia tahu dan hafal jalan-jalan tikus menuju titik-titik lokasi. Berkatnya proses pengambilan gambar berjalan aman. Keberanian tim dan bantuan dari warga lokal menjadi kunci penting untuk keberhasilan pengambilan gambar di wilayah berisiko ini.
Dari ketiga tempat mungkin lokasi Aceh menjadi wilayah yang paling tidak beresiko besar. Alasannya adalah lokasi tersebut sudah tidak aktif. Alias operasi pertambangan batu bara sudah selesai. Hanya menyisakan lubang besar tergenangi air dan lumpur. Meskipun tidak ada lagi aktivitas tambang, bekas-bekas kehancuran masih terlihat jelas.
Soal kesehatan warga terdampak Bani menyoroti minimnya fasilitas kesehatan di sana, khususnya saat berada di Lasolo Kepulauan. Meski ada satu Puskesmas tetapi kondisinya memprihatinkan. Bagaimana jika orang-orang terkena sakit dan membutuhkan pertolongan pertama. Apakah harus pergi ke Kendari –yang jaraknya jauh sekali? Belum lagi soal ketersediaan air bersih. Sumber mata air terancam mati karena jarak area tambang dan wilayah non-tambang dekat sekali. Jika air bersih tidak ada dan warga hanya bisa mengkonsumsi air kotor tercemar limbah beracun, maka masa depan kesehatan anak-anak terancam. Mereka rawan mengalami stunting dan penyakit lainnya. Apalagi soal kualitas ekosistem setempat yang rusak bakal mengancam kesehatan mental warga. Hal yang sama diungkapkan oleh Zikri, ia menyampaikan temuannya terkait dampak penambangan nikel di Indonesia. Saat warga terdampak melakukan cek darah, dalam tubuhnya terdapat kandungan heavy metal yang sangat berbahaya bagi tubuh. Air adalah sumber kehidupan. Apabila sumber air bersih tidak ada maka kesehatan warga terancam. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa dampak tambang tidak hanya merusak alam, tetapi juga merenggut hak-hak dasar manusia.
Melalui bagian film yang menyoroti soal transparansi dana bagi hasil perusahaan ke warga (topik dan misi utama Publish What You Pay), Bani menceritakan susahnya bertemu narasumber yang relevan. Banyak orang yang tidak mau bersaksi dan menjadi narasumber. Ia tidak tahu ada apa dibalik penolakan itu. Diluar hal itu semua, kenyataannya yang merujuk pada film, dana bagi hasil tidak sampai kepada para warga. Ketidaktransparanan ini menambah daftar panjang masalah yang dihadapi oleh masyarakat di wilayah terdampak tambang. Isu terkait dana bagi hasil ini menarik untuk dibicarakan sekarang jika kita kaitkan dengan amanat Reformasi 98 –tentang desentralisasi dan pada konteks UU tentang investasi –yang berbau resentralisasi. Ya, tentu saja, alangkah lebih baik topik ini tidak kita bahas di forum ini. Bukan soal mepetnya waktu, tapi kita paham konsep empan papan.
Sore semakin mepet, matari pun sudah lelah, kita semakin di ujung acara. Tetapi kita enggan usai.
Pembicaraan mengalir ke arah yang lebih filosofis. Pemikiran itu datang dari Mas Lana, ia memberi perhatian utama pada kasus Suku Bajo yang "didaratkan". Dengan lantang, ia menyatakan bahwa "kejahatan paling tinggi adalah penghilangan kebudayaan." Menurutnya, kerusakan ekologis sering kali beriringan dengan hancurnya identitas dan cara hidup suatu komunitas, yang dampaknya jauh lebih parah daripada kerugian material.
Ia juga berpendapat bahwa film ini bisa menjadi wahana refleksi dan evaluasi diri. Sebelum menyalahkan orang lain, kita harus memperbaiki diri sendiri, memastikan apakah kita sudah bener dan pener. Bagi Mas Lana, fenomena antara penguasa yang semena-mena dan rakyat yang papa adalah siklus kehidupan. Ia berpandangan, penguasa tidak akan memikirkan hak-hak dasar rakyat karena yang mereka tahu hanyalah soal "membunuh dan membunuh," sebuah metafora untuk eksploitasi yang tiada henti. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa sikap positivisme harus diimbangi dengan pesimisme agar kita dapat melihat realitas secara lebih jujur dan kritis.
Sehaluan dengan Mas Lana, Mbak Ratna mencontohkan gerakan revolusi hijau di dunia. Ia mempertanyakan para pihak yang tidak memahami dan tidak konsisten dalam gerakan. Menurutnya, banyak pihak yang hanya mengikuti tren tanpa benar-benar berkomitmen pada prinsip-prinsip keberlanjutan. Padahal, konsistensi dan pemahaman mendalam adalah kunci untuk mencapai perubahan nyata, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.
Alerta, alerta, waktu habis. Waktu habis.
Bani Nasution mengakhiri diskusi dan menegaskan sekali lagi, “...Tambang ekstraktif adalah monster. Ia menghanguskan tanah, mengotori air, dan meninggalkan debu serta lumpur di tubuh-tubuh yang tak pernah diajak bicara. Tak ada yang benar-benar diuntungkan dari bisnis ini, kecuali kekuasaan yang terus menipu kita.”